Beranda | Artikel
Peran Ibu dalam Pendidikan Anak
16 jam lalu

Peran Ibu dalam Pendidikan Anak adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 17 Dzulqa’dah 1447 H / 4 Mei 2026 M.

Kajian Tentang Peran Ibu dalam Pendidikan Anak

الأُمُّ مَدْرَسَةٌ الأُولَى

“Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama.”

Pendidikan di rumah bersifat berkelanjutan. Meskipun anak menempuh pendidikan formal dari jenjang TK hingga SMA, mereka akan selalu kembali ke rumah. Di sanalah peran ibu menjadi sangat krusial. Jika seorang ibu memiliki karakter yang baik, maka generasi mendatang pun akan baik. Oleh karena itu, seorang ibu harus terus belajar, terutama mengenai tauhid yang lurus, ibadah yang sesuai sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta akhlak dan adab Islam.

Kriteria Wanita Ahli Surga

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kabar gembira mengenai kriteria wanita yang dipersilakan masuk surga dari pintu mana saja. Hal ini didasarkan pada ketaatan yang tulus, bukan sekadar luasnya hafalan tanpa amal. Beliau bersabda:

الْمَرْأَةُ إِذَا صَلَّتْ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَأَحْصَنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا فَلْتَدْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Apabila seorang wanita melaksanakan salat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau kehendaki.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aym dalam al-Hilya)

Seorang wanita tidak dituntut untuk menguasai ilmu-ilmu yang sangat rumit seperti ushul fiqh atau menghafal kitab Alfiyah Ibnu Malik sebagai syarat utama kemuliaan, namun kepatuhan pada prinsip dasar agama adalah kunci utamanya.

Wanita yang mulia adalah mereka yang konsisten menjaga shalat, puasa, kehormatan diri, serta menunjukkan ketaatan kepada suaminya. Kriteria wanita ahli surga tampak sederhana, namun pengamalannya memerlukan perjuangan yang besar.

Perbandingan Ketaatan: Putra Nabi Nuh dan Putra Nabi Ibrahim

Pembahasan ini merujuk pada faedah dari kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam mengenai peran ibu dan pengaruhnya dalam pendidikan anak. Dalam kisah Nabi Nuh ‘Alaihis Salam bersama putranya, terdapat isyarat kuat mengenai besarnya pengaruh ibu terhadap karakter seorang anak. Isyarat ini menjadi semakin jelas jika dibandingkan dengan kisah Nabi Ibrahim Alaihis Salam bersama putranya, Nabi Ismail Alaihis Salam. Terdapat perbedaan yang sangat kontras antara kedua putra nabi ini. Nabi Nuh Alaihis Salam menginginkan keselamatan bagi putranya, namun putra tersebut justru bermaksiat dan berpaling. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ

“Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir’.” (QS. Hud[11]: 42)

Meskipun Nabi Nuh Alaihis Salam mengajak orang terdekatnya untuk selamat dari air bah, putranya justru menolak dengan berkata bahwa ia akan berlindung di atas gunung. Nabi Nuh Alaihis Salam memperingatkan bahwa pada hari itu tidak ada yang bisa melindungi dari ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla kecuali orang yang dirahmati-Nya. Akhirnya, ombak besar memisahkan mereka dan putra Nabi Nuh Alaihis Salam termasuk orang yang tenggelam serta binasa.

Sebaliknya, Nabi Ibrahim Alaihis Salam diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail Alaihis Salam. Namun, Nabi Ibrahim Alaihis Salam justru mendapati putranya sebagai sosok yang sabar dan rida terhadap perintah tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat santun.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 101)

Anak yang santun tersebut adalah Nabi Ismail Alaihis Salam. Ketika Nabi Ismail Alaihis Salam telah mencapai usia yang cukup untuk membantu pekerjaan ayahnya, Nabi Ibrahim Alaihis Salam menyampaikan wahyu yang diterimanya melalui mimpi:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 102)

Nabi Ibrahim Alaihis Salam tidak mengetahui bahwa perintah menyembelih putranya kelak akan digantikan dengan sembelihan lain. Beliau rela mendahulukan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala meskipun hati merasa sangat berat. Perlu ditegaskan bahwa mimpi Nabi Ibrahim Alaihis Salam adalah wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla, sehingga tidak dapat disamakan dengan mimpi manusia pada zaman sekarang yang sering kali berasal dari gangguan setan.

Nabi Ibrahim Alaihis Salam berkata kepada putranya:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. Ash-Shaffat[37]: 102)

Meskipun saat itu Nabi Ismail Alaihis Salam masih kecil, beliau menunjukkan kualitas keimanan yang luar biasa. Jawaban beliau diabadikan dalam Al-Qur’an:

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat[37]: 102)

Keluarga Nabi Ibrahim Alaihis Salam merupakan keluarga luar biasa yang ketundukannya diabadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jejak ketaatan mereka senantiasa diingat oleh umat Islam, terutama saat melaksanakan ibadah haji dan umrah melalui syariat sai dan lempar jumrah.

Pengaruh Ibu terhadap Perilaku Anak

Kisah ini memberikan isyarat mengenai besarnya pengaruh pendidikan seorang ibu terhadap perilaku dan akhlak anak. Ibu memiliki peran sentral dalam membentuk karakter buah hati. Apabila seorang ibu rajin beribadah, senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menjaga kehormatannya, maka anak akan mencontoh teladan baik tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan upaya seorang ibu yang shalihah dalam menjaga anaknya.

Perbedaan karakter antara putra Nabi Nuh Alaihis Salam dan putra Nabi Ibrahim Alaihis Salam tidak lepas dari sosok ibu yang mendampingi mereka. Istri Nabi Nuh Alaihis Salam adalah seorang wanita yang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir di dalam Al-Qur’an:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِّلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ

“Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth.” (QS. At-Tahrim[66]: 10)

Sebaliknya, istri Nabi Ibrahim Alaihis Salam, yakni Ibunda Hajar, adalah seorang mukminah yang taat. Beliau merupakan sosok wanita hebat yang menjadi perumpamaan terbaik dalam hal keimanan dan ketawakalan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibunda Hajar merupakan perumpamaan nyata bagi keimanan dan ketawakalan yang sangat tinggi. Di setiap zaman, baik pria maupun wanita dapat mengambil pelajaran dari beliau dalam menghadapi berbagai problematika hidup. Ketawakalan luar biasa tersebut nampak saat Nabi Ibrahim Alaihis Salam membawa Ibunda Hajar dan putranya, Ismail Alaihis Salam, ke sisi Baitullahil Haram.

Mereka ditempatkan di sebuah lokasi yang saat itu tidak berpenghuni dan tidak memiliki sumber air. Saat Nabi Ibrahim Alaihis Salam hendak melangkah pergi meninggalkan mereka, Ibunda Hajar mengikuti dan bertanya ke mana beliau akan pergi serta mengapa beliau meninggalkan mereka di lembah yang sunyi tanpa bantuan apa pun. Pertanyaan tersebut diulang berkali-kali, namun Nabi Ibrahim Alaihis Salam tidak menoleh sama sekali demi menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibunda Hajar kemudian menyadari bahwa tindakan tersebut merupakan perintah agama, lalu beliau bertanya untuk memastikan:

آللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا؟

“Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan hal ini?”

Nabi Ibrahim Alaihis Sallam menjawab singkat, “Naam (Iya).” Mendengar jawaban tersebut, Ibunda Hajar dengan penuh keyakinan berkata:

إِذَنْ لاَ يُضَيِّعُنَا

“Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” (HR. Bukhari)

Pengaruh Ibu dalam Pendidikan dan Ujian

Kisah tersebut memperlihatkan betapa besarnya pengaruh seorang ibu dalam pendidikan dan pembentukan karakter anak. Hasil dan buah dari pendidikan seorang ibu biasanya akan nampak dengan jelas saat datangnya ujian serta cobaan hidup.

Hal ini menjadi alasan penting bagi setiap laki-laki untuk bersemangat mencari calon istri yang memiliki pemahaman agama yang baik. Wanita yang shalihah akan menjadi madrasah terbaik bagi anak-anaknya dan menjadi pilar kekuatan dalam keluarga saat menghadapi kesulitan. 

Dalam mencari pasangan hidup, seseorang hendaknya mencari wanita yang memiliki pemahaman agama yang baik. Sosok inilah yang kelak akan menjadi ibu bagi anak-anak setelah pernikahan. Hal ini merupakan salah satu hak anak, yaitu mendapatkan ibu yang memiliki aqidah lurus, ibadah yang konsisten, serta akhlak dan adab yang mulia. Pemilihan calon ibu tidak boleh dilakukan secara sembarangan karena dialah yang akan membentuk karakter putra-putri di masa depan.

Bagi yang belum menikah, hendaknya senantiasa memperbaiki diri agar layak mendapatkan pendamping yang shalihah. Keluarga yang kuat harus dibangun di atas landasan agama yang kokoh. 

Bahaya Kedurhakaan terhadap Orang Tua

Anak yang tidak patuh kepada kedua orang tuanya akan menghadapi kebinasaan, kerugian, serta penyesalan, baik di dunia maupun di akhirat. Menjadi anak yang berbakti merupakan kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Perilaku membangkang atau nakal tidak akan mendatangkan kemuliaan maupun kebanggaan, melainkan hanya akan berujung pada penderitaan.

Ketidakpatuhan kepada orang tua adalah jalan menuju kecelakaan, sebagaimana yang terjadi pada putra Nabi Nuh Alaihis Salam yang binasa karena menolak ajakan ayahnya.

Orang tua, khususnya ayah dan ibu, adalah manusia yang paling menginginkan kebaikan dan kemaslahatan bagi anak-anak mereka. Setiap nasihat, perintah, dan doa yang keluar dari lisan mereka senantiasa tertuju pada keselamatan sang anak. Ibu telah berkorban dengan mengandung dan mempertaruhkan nyawa saat melahirkan. Oleh karena itu, sangat tidak pantas jika seorang anak justru bersikap buruk atau menyakiti hati orang tuanya.

Pentingnya Berbakti kepada Orang Tua

Orang tua senantiasa menginginkan kebaikan, kebahagiaan, dan keselamatan bagi anak-anaknya, baik di dunia maupun di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an mengenai peringatan bagi anak yang durhaka terhadap nasihat orang tuanya:

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَّكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِن قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

“Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya: ‘Ah’, apakah kamu berdua menjanjikan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal beberapa umat sebelumku telah berlalu? Kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya berkata: ‘Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu benar.’ Lalu dia berkata: ‘Ini hanyalah dongeng-dongeng orang terdahulu belaka’.” (QS. Al-Ahqaf[46]: 17)

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ حَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلُ فِيٓ أُمَمٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ ۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ خَٰسِرِينَ

“Mereka itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia.  Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Ahqaf[46]: 18)

Anak yang bersikap demikian akan menghadapi ancaman azab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi bersama umat-umat terdahulu dari kalangan jin dan manusia yang telah dipastikan mendapat hukuman-Nya.

Berbakti sebagai Kunci Kesuksesan

Kesuksesan hidup di dunia dan akhirat sangat bergantung pada bakti kepada orang tua. Tidak pernah ada sejarah yang mencatat keberhasilan seorang anak yang menentang orang tuanya. Sebaliknya, para Nabi, Rasul, sahabat, serta para ulama besar senantiasa menunjukkan keteladanan dalam berbakti kepada orang tua.

Ketaatan kepada orang tua juga menjadi sebab terkabulnya doa. Salah satu contoh yang masyhur adalah sosok Uwais Al-Qarni pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Kisah lainnya terdapat dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai tiga orang yang terjebak di dalam gua yang tertutup batu besar. Salah satu di antara mereka berdoa dengan bertawasul melalui amal baktinya kepada orang tua.

Orang tersebut setiap hari memerah susu kambing untuk orang tuanya. Suatu ketika, ia pulang terlambat dan mendapati kedua orang tuanya telah tertidur. Ia tetap memegang bejana berisi susu tersebut di samping tempat tidur mereka hingga subuh karena tidak ingin membangunkan mereka, padahal ia sendiri dalam keadaan sangat lelah.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Pengaruh Ibu dalam Pendidikan Anak” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56220-peran-ibu-dalam-pendidikan-anak/